Arthur Hayes Peringatkan: AI Picu Bubble Likuiditas Terbesar Sepanjang Sejarah, Bitcoin Jadi Pemenang Besar

vivit
vivit May 13, 2026
Updated 2026/05/13 at 3:54 AM

Arthur Hayes kembali menyampaikan pandangan kerasnya. Mantan CEO BitMEX dan CIO Maelstrom ini memperingatkan bahwa persaingan global di bidang Artificial Intelligence (AI) sedang menciptakan bubble likuiditas terbesar dalam sejarah manusia.

Menurut Hayes, negara-negara besar melihat pengembangan AI bukan lagi sebagai proyek teknologi biasa, melainkan sebagai ajang bertahan hidup. Akibatnya, bank sentral dan pemberi pinjaman komersial pun membiayai pembangunan ini tanpa batas.

Dari Arus Kas ke Banjir Kredit

Selama ini, belanja modal (CAPEX) AI di Amerika Serikat masih banyak ditopang oleh arus kas perusahaan teknologi besar. Namun Hayes menilai sumber dana tersebut mulai menipis.

“Skala pengeluaran CAPEX saat ini dan di masa depan memerlukan pertumbuhan pembiayaan lewat jalur kredit,” tulis Hayes dalam newsletter terbarunya.

Di China, Presiden Xi Jinping bahkan memerintahkan bank-bank untuk meninggalkan sektor properti dan mengalihkan fokus ke teknologi. Sementara The Fed dan People’s Bank of China terus melonggarkan kebijakan moneter untuk mendukung laju AI.

Hayes juga menyebut Paradox Jevons — semakin efisien sebuah teknologi, semakin besar pula permintaan terhadapnya. Efisiensi model AI yang meningkat justru membuat kebutuhan komputasi dan listrik meledak.

Narasi Keamanan Nasional Makin Kuat

Target Capex AI Morgan Stanley | Sumber: Holger di X

Pandangan Hayes diperkuat oleh tokoh penting lainnya. David Sacks, White House AI and Crypto Czar, memperkirakan belanja modal AI bisa menambah 2% pertumbuhan PDB AS tahun ini, dan berpotensi di atas 3% tahun depan.

“Menghentikan kemajuan AI sama dengan menghentikan ekonomi AS,” tegas Sacks.

Pada 1 Mei lalu, Department of Defense AS menandatangani kontrak AI dengan delapan raksasa teknologi: Google, Microsoft, Amazon, Nvidia, OpenAI, SpaceX, Oracle, dan lainnya. Narasi “keamanan nasional” ini semakin melegitimasi banjir likuiditas.

Bitcoin sebagai Penerima Manfaat Utama

Bagi Hayes, semua gelembung kredit ini adalah kabar baik bagi Bitcoin.

Ia meyakini Bitcoin telah membentuk dasar di kisaran US$60.000 awal tahun ini. Target jangka menengahnya adalah US$126.000, dan laju kenaikan akan semakin ganas setelah harga menembus US$90.000 — memaksa short seller melakukan buyback massal.

“Selama risiko gelembung ini belum pecah, jalur termudah bagi Bitcoin adalah naik,” kata Hayes.

Risiko yang Mengintai

Meski optimis, Hayes tetap realistis. Ia memperingatkan bahwa bubble ini tidak akan bertahan selamanya. Beberapa pemicu potensial yang bisa menghentikan euforia:

  • Penawaran saham AI skala besar atau merger raksasa
  • Retorika anti-AI dari kandidat politik
  • Lonjakan harga listrik dan komoditas yang memicu kemarahan publik menjelang pemilu

Investor kini disarankan memantau belanja infrastruktur AI, kebijakan bank sentral, harga energi, dan IPO teknologi besar sebagai sinyal awal perubahan arah.

Kesimpulan Arthur Hayes melihat situasi saat ini sebagai paradoks klasik: semakin gila pengeluaran AI, semakin deras likuiditas fiat yang diciptakan, dan semakin kuat posisi Bitcoin sebagai aset lindung nilai terbaik di tengah banjir uang kertas.

Bagi para investor kripto, pesan Hayes cukup jelas — siapkan diri menyambut gelombang likuiditas terbesar sepanjang sejarah.

Share this Article