Regulasi SEC Bikin 13,4 Juta Token Kripto Mati — Ini Penyebabnya

Afin Hafizh
Afin Hafizh February 10, 2026
Updated 2026/02/10 at 3:59 AM

CoinGecko melaporkan lebih dari 13,4 juta token kripto telah mati sejak 2021, dengan 11,6 juta di antaranya kolaps hanya pada tahun 2025 (setara 86,3% dari total kegagalan sepanjang periode). Angka ini menunjukkan percepatan kegagalan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan analis Alex Krüger menyalahkan regulasi SEC yang usang serta pendekatan Howey Test sebagai penyebab utama.

1. Data Kegagalan Token: Skala dan Percepatan

  • 2021: 428.000 token terdaftar → 2.584 mati
  • 2022: 213.075 mati
  • 2023: 245.049 mati
  • 2024: 1,38 juta mati
  • 2025: 11,6 juta mati (lonjakan ekstrem)
  • Total hingga akhir 2025: 13,4 juta token mati
  • Persentase token gagal: 53,2% dari seluruh aset yang pernah terdaftar di GeckoTerminal.

Sektor tertinggi tingkat kegagalannya:

  • Musik & video → hampir 75% gagal
  • Token governance RWA → mayoritas return negatif -26% hingga -79% (Jan 2024 – Apr 2025)

2. Peran Howey Test SEC dan Desain Token Tanpa Hak

Howey Test (1946) menentukan suatu aset sebagai sekuritas jika memenuhi 4 unsur:

  1. Investasi uang
  2. Dalam usaha bersama
  3. Dengan harapan keuntungan
  4. Dari upaya orang lain

Agar token tidak dianggap sekuritas, proyek secara sistematis menghapus seluruh hak kontraktual (revenue share, governance, voting, redemption, dll.). Hasilnya:

  • Token menjadi aset spekulatif murni tanpa nilai hukum.
  • Holder tidak punya jalur hukum jika tim rugikan dana atau tinggalkan proyek.
  • Tim tidak punya kewajiban fidusia kepada holder.

Krüger menyebut ini menciptakan “kekosongan akuntabilitas”:

  • Tim bisa kendalikan treasury besar tanpa transparansi.
  • Pendiri bisa tinggalkan proyek tanpa konsekuensi hukum atau finansial.
  • Soft rug menjadi pola umum karena desain token sengaja dibuat tanpa nilai intrinsik.

3. Dari Utility Token ke Meme Coin & PVP Trading

Karena utility token VC-backed sering gagal memberikan nilai nyata, ritel beralih ke meme coin yang secara terbuka tidak menawarkan utilitas. Krüger: “Meme coin bahkan lebih spekulatif dan kurang transparan, sehingga mempercepat pergeseran ke trading PVP predatoris dan judi zero-sum.”

Pola ini memperburuk pasar:

  • Volatilitas ekstrem
  • Pump & dump masif
  • Kehilangan kepercayaan jangka panjang

4. Pertumbuhan Sektor vs Performa Token Governance RWA

Meski sektor RWA tumbuh pesat:

  • Aset treasury tokenized → market cap US$5,6 miliar (+544%)
  • BlackRock BUIDL kuasai 44% market share
  • Maple Finance dominasi 67% pinjaman kredit swasta

Token governance RWA justru rugi besar:

  • ONDO, OM (MANTRA), SYRUP, CFG, GFI, ENA → return negatif -26% hingga -79% (Jan 2024 – Apr 2025)

Alasan struktural:

  • Saat pasar bullish, yield lending DeFi lebih menarik daripada eksposur RWA.
  • Institusi lebih suka produk akhir (tanpa token governance) karena stabilitas imbal hasil.
  • Token governance lebih berfungsi sebagai alat spekulasi daripada klaim atas pertumbuhan protokol.

5. Solusi yang Diusulkan Krüger

Krüger menyarankan generasi baru token dengan:

  • Hak yang dapat ditegakkan secara hukum (revenue share, governance, redemption).
  • Kerangka regulasi yang jelas (bukan hanya penegakan hukum retroaktif).
  • Desain token yang memberikan akuntabilitas nyata kepada holder.

Tanpa perubahan ini, pasar kripto kemungkinan terus menghasilkan token spekulatif dengan umur pendek dan kegagalan massal.

Kesimpulan Regulasi SEC yang kaku (Howey Test) memaksa proyek menghapus hak dari token → menciptakan ekosistem di mana spekulasi murni mendominasi. Hasilnya: 13,4 juta token mati, mayoritas gagal pada 2025. Pasar menjadi “kuburan” karena desain token yang sengaja dibuat tanpa nilai hukum. Solusi ada pada regulasi yang memberikan kejelasan hak & kewajiban, bukan hanya penegakan retroaktif.

Share this Article