Portal Indonesia Crypto — Bitcoin (BTC) berhasil merebut kembali level psikologis $80.000 pada perdagangan Kamis (4/9/2026) setelah melonjak lebih dari 5% dalam 24 jam terakhir. Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang turun ke level 99, didorong oleh dugaan intervensi Bank of Japan (BOJ) untuk memperkuat yen.
Poin Utama
- Bitcoin naik 5% dan menyentuh $81.000 pada perdagangan sesi AS.
- USD/JPY anjlok ke 155,4 diduga akibat intervensi BOJ, menekan DXY ke 99.
- Probabilitas kenaikan suku bunga BOJ 25 basis point pada 18 September melonjak ke 98% di Polymarket.
- Saham Strategy (MSTR) milik Michael Saylor ikut melonjak 8,6%.
- Analis terbelah mengenai dampak intervensi yen terhadap likuiditas global dan carry-trade.
Apa yang Mendorong Kenaikan Bitcoin?
Pergerakan Bitcoin ke $81.000 tidak terlepas dari dinamika pasar valuta asing. Pasangan USD/JPY terus tertekan setelah sempat menyentuh 158,5 pada Rabu, lalu anjlok lebih dalam ke 155,4. Penurunan ini menciptakan tekanan pada DXY yang kini berada di level 99. Secara historis, pelemahan DXY menjadi angin segar bagi aset berisiko seperti Bitcoin dan ekuitas teknologi.
Saham Strategy (MSTR), yang dikenal sebagai perusahaan dengan treasury Bitcoin terbesar, ikut merasakan euforia dengan kenaikan 8,6%. Meski demikian, saham preferen perpetual STRC masih tertahan di bawah nilai par $100, menunjukkan bahwa sentimen institusional masih berhati-hati.
Dampak Intervensi Yen terhadap Likuiditas Global
Beberapa pihak melihat intervensi yen sebagai sinyal positif bagi likuiditas global. Arthur Hayes, CIO Maelstrom, telah lama berargumen bahwa fasilitas repo FIMA (Foreign and International Monetary Authorities) dapat memberikan likuiditas dolar kepada Jepang dengan menggunakan Treasury sebagai jaminan. Meski belum ada penarikan dari fasilitas tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah membuka kemungkinan penggunaannya pada akhir Juli lalu.
Di sisi lain, kenaikan suku bunga BOJ yang semakin pasti—dengan probabilitas 98% menurut data Polymarket—membuka risiko unwinding carry-trade. Fenomena serupa terjadi pada kuartal III-2024, ketika intervensi BOJ disertai kenaikan suku bunga memicu volatilitas besar di pasar keuangan global.
Pemisahan Pandangan Analis
The Macro Paper mencatat bahwa penurunan USD/JPY hampir 2,5% dalam 24 jam “tidak mungkin terjadi tanpa intervensi besar.” Di sisi berlawanan, beberapa analis memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga BOJ berpotensi memicu penjualan aset global untuk menutup posisi leverage yang dibuka dengan pinjaman yen murah.
Secara teknis, BTC kini berada di dekat resistance utama sekitar $81.000–$82.000. Penembusan ke level lebih tinggi membutuhkan konfirmasi volume dan dukungan dari pasar derivatif. Jika DXY terus melemah dan likuiditas global meningkat, Bitcoin memiliki ruang untuk menguji kembali level tertinggi sebelumnya.
Analisis dan Proyeksi
Dari perspektif makro, korelasi negatif antara DXY dan Bitcoin masih cukup kuat. Pelementahan dolar akibat dinamika yen dapat memberikan tailwind jangka pendek bagi BTC. Namun, investor perlu waspada terhadap dua skenario: (1) unwinding carry-trade yang tiba-tiba, dan (2) kebijakan hawkish Federal Reserve yang masih menjaga suku bunga AS tetap tinggi.
Strategi terbaik saat ini adalah memantau pergerakan DXY, yield Treasury 10-tahun, serta keputusan suku bunga BOJ pada 18 September mendatang. Ketiga variabel ini akan menjadi penentu arah Bitcoin dalam minggu-minggu ke depan.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi saja. Bukan merupakan saran investasi atau rekomendasi perdagangan. Setiap investasi dan perdagangan aset kripto memiliki risiko tinggi. Pembaca diharapkan melakukan riset mandiri (Do Your Own Research) sebelum mengambil keputusan finansial.