Pemerintah Amerika Serikat baru saja memindahkan aset crypto senilai hampir $297 juta ke platform Coinbase Prime pada Senin (14 Juli 2026). Langkah ini langsung memicu spekulasi di kalangan investor crypto mengenai kemungkinan penjualan aset yang disita tersebut, meskipun belum ada konfirmasi resmi dari pihak berwenang.
Poin Utama
- Pemerintah AS memindahkan 3.940 Bitcoin (BTC) senilai ~$244 juta dan 30.014 Ether (ETH) senilai ~$53 juta ke Coinbase Prime.
- Asset BTC berasal dari kasus Ryan Farace (“xanaxman”) dan bursa crypto yang sudah tidak beroperasi BTC-e, sementara ETH terkait kasus Brian Krewson (karyawan Oracle) dalam skema pencucian uang senilai $54 juta.
- Langkah ini memunculkan pertanyaan mengenai komitmen Presiden Donald Trump terhadap Strategic Bitcoin Reserve, yang melarang penjualan Bitcoin hasil sitaan.
- Dompet crypto milik pemerintah AS masih menyimpan sekitar $20,6 miliar aset crypto, termasuk ~325.000 BTC.
- Transfer ke Coinbase Prime tidak serta-merta berarti penjualan, karena platform tersebut juga menyediakan layanan custody, staking, dan treasury.
Detail Transfer Crypto Pemerintah AS
Berdasarkan data dari platform analisis on-chain Arkham Intelligence, transfer besar-besaran ini terjadi pada hari Senin. Total nilai yang dipindahkan mencapai sekitar $297 juta, dengan komposisi mayoritas Bitcoin dan sebagian kecil Ether. Meski bukan yang pertama kalinya, transfer kali ini termasuk salah satu yang terbesar dari dompet pemerintah AS sepanjang tahun 2026.
Kepala riset di Galaxy Research, Alex Thorn, mengonfirmasi bahwa asal-usul Bitcoin yang dipindahkan berasal dari sitaan kasus Ryan Farace (dikenal sebagai “xanaxman”) dan bursa crypto BTC-e yang telah ditutup. Sementara itu, aset Ether dikaitkan dengan kasus penipuan dan pencucian uang yang melibatkan Brian Krewson, seorang mantan karyawan Oracle.
Konflik dengan Cadangan Bitcoin Strategis?
Transfer ini menarik perhatian karena berpotensi bertabrakan dengan Perintah Eksekutif Presiden Trump pada Maret 2025, yang menetapkan bahwa Bitcoin hasil sitaan pemerintah harus menjadi bagian dari Strategic Bitcoin Reserve dan tidak boleh dijual. Jika aset ini benar-benar dijual, maka akan menjadi indikasi bahwa kebijakan cadangan strategis tersebut belum sepenuhnya diimplementasikan.
Namun, perlu dicatat bahwa pemindahan aset ke Coinbase Prime tidak selalu diikuti dengan penjualan. Sebagai platform institusional terkemuka, Coinbase Prime menyediakan berbagai layanan termasuk custody (penyimpanan aman), staking, perdagangan, dan manajemen treasury. Oleh karena itu, transfer ini bisa jadi hanya bagian dari konsolidasi aset atau persiapan strategi keuangan jangka panjang.
Sejarah Transfer Sebelumnya
Sebelumnya, dompet pemerintah AS juga pernah memindahkan sejumlah aset crypto ke Coinbase Prime. Pada Juni 2026, sekitar 98.589 token Chainlink (LINK) yang berasal dari sitaan FTX dan Alameda Research dipindahkan ke platform yang sama. Lebih awal lagi, pada April 2026, sekitar 8,2 Bitcoin terkait peretasan Bitfinex tahun 2016 juga mengalami nasib serupa.
Sampai saat ini, dompet yang dikaitkan dengan pemerintah AS masih memegang portofolio crypto yang sangat besar, diperkirakan senilai $20,6 miliar. Rinciannya meliputi sekitar 325.000 BTC, 28.000 ETH, 146 juta USDT, dan 750 WBTC. Dengan demikian, transfer $297 juta baru-baru ini hanya merupakan sebagian kecil dari total kepemilikan mereka.
Analisis dan Dampak ke Pasar Crypto
Dari perspektif pasar, setiap gerakan dompet crypto pemerintah AS selalu menjadi perhatian utama bagi trader dan investor. Potensi penjualan dalam jumlah besar dapat menimbulkan tekanan jual (sell pressure) yang signifikan, terutama pada harga Bitcoin yang saat ini berada di level sensitif sekitar $62.000. Namun, jika transfer ini hanya untuk tujuan custody atau konsolidasi, dampaknya terhadap harga bisa minimal.
Adopsi crypto oleh institusi pemerintah dan korporasi besar semakin menunjukkan bahwa aset digital bukan lagi sekadar instrumen spekulatif. Hyundai, misalnya, baru-baru ini menyelesaikan uji coba penyelesaian treasury lintas batas menggunakan USDT antara anak perusahaan di AS dan Meksiko. Sementara Bolivia sedang mempertimbangkan pengakuan USDT sebagai alat pembayaran resmi akibat kekurangan dolar AS. Tren ini menandakan bahwa crypto semakin terintegrasi dalam sistem keuangan global.
Bagi investor di Indonesia, pergerakan dompet besar (whale) seperti milik pemerintah AS harus menjadi sinyal untuk tetap waspada. Meski fundamental crypto tetap kuat, volatilitas jangka pendek dapat terjadi kapan saja akibat keputusan politik dan regulasi.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan berita dan data yang tersedia di pasar. Portal Indonesia Crypto Media tidak memberikan nasihat keuangan atau investasi. Selalu lakukan riset mandiri (Do Your Own Research / DYOR) sebelum membuat keputusan investasi. Harga aset crypto sangat fluktuatif dan risiko kerugian sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.