Iran sedang mempertimbangkan aturan baru yang mengejutkan: kapal yang ingin melintas Selat Hormuz harus membayar tarif menggunakan Bitcoin.
Kebijakan ini muncul tepat setelah Presiden Donald Trump mengumumkan jeda serangan militer ke Iran selama dua minggu dan membuka kembali jalur strategis tersebut pada 8 April 2026.
Menurut Hamid Hosseini, juru bicara Serikat Eksportir Minyak, Gas, dan Petrokimia Iran, kapal tanker kosong tetap boleh lewat tanpa biaya. Namun, kapal yang membawa muatan minyak akan dikenakan tarif US$1 per barel. Pembayaran ini wajib dilakukan menggunakan Bitcoin.
Cara Kerja Skema Baru Ini
Iran akan memeriksa setiap kapal selama periode dua minggu untuk memastikan tidak ada pengangkutan senjata. Setelah lolos pemeriksaan, kapal hanya diberi waktu singkat untuk melakukan pembayaran Bitcoin. Tujuannya jelas: menghindari pelacakan dan risiko penyitaan aset karena sanksi internasional.
Langkah ini menunjukkan bahwa Iran semakin pintar memanfaatkan kripto untuk mengatasi tekanan ekonomi dari luar.
Dampak ke Harga Minyak dan Bitcoin
Sebelum kesepakatan jeda ini, ketegangan di Selat Hormuz sempat membuat harga minyak mentah melonjak hingga US$100 per barel — tertinggi dalam empat tahun. Sementara itu, harga Bitcoin bergerak liar di kisaran US$65.000 hingga US$75.000.
Pengumuman Trump tentang gencatan senjata sementara langsung membuat Bitcoin reli dan tembus US$71.500. Pasar merasa lebih lega karena risiko konflik besar tampaknya mereda.
Iran Sudah Lama Andalkan Kripto
Iran bukan baru pertama kali menggunakan kripto. Negara ini sudah lama memanfaatkan aset digital untuk mengurangi dampak sanksi AS yang membuat nilai mata uang rial mereka terus melemah.
Pada Januari 2026, Bank Sentral Iran disebut mengakuisisi stablecoin USDT senilai US$500 juta. Sepanjang paruh pertama 2025, total transaksi kripto di Iran mencapai sekitar US$3,7 miliar.
Dengan skema pembayaran Bitcoin di Selat Hormuz, Iran semakin menjadikan kripto sebagai alat penting dalam strategi ekonominya.
Apa Artinya ke Depan?
Kebijakan ini masih dalam tahap kajian, tapi jika diterapkan, akan menjadi langkah berani yang bisa mengubah cara pembayaran internasional di jalur minyak paling penting di dunia.
Saat ini, semua pihak sedang menunggu apakah jeda dua minggu ini akan berlanjut menjadi kesepakatan damai permanen, dan bagaimana skema tarif Bitcoin ini akan berjalan di lapangan.