Emas Pulih Cepat Setelah Anjlok 7%, Bitcoin Malah Terjebak di Bawah US$84K

Afin Hafizh
Afin Hafizh January 30, 2026
Updated 2026/01/30 at 4:00 AM

Emas anjlok hingga 7% karena ketegangan AS-Iran, tapi pulih dengan V-shape dalam beberapa jam. Bitcoin turun 5% dari US$89.000 ke US$83.400 dan gagal rebound signifikan. Nasdaq hanya turun 0,7%, Meta melonjak 10%, sementara Bitcoin tidak ikut menikmati kenaikan saham teknologi—menunjukkan identitasnya sebagai aset masih ambigu, tidak sepenuhnya safe haven maupun aset berisiko.

Key Points

  • Emas → Turun tajam lalu rebound cepat, kapitalisasi pasar berayun US$5,5 triliun dalam satu sesi (rekor).
  • Bitcoin → Turun 5% dan stagnan, ETF spot keluar arus dana, Coinbase Premium negatif.
  • Saham AS → Ketahanan relatif, Meta +10%, Nasdaq -0,7%, Dow positif tipis.
  • Implikasi → Bitcoin gagal bertindak sebagai safe haven maupun risk-on asset saat krisis geopolitik.

Emas sebagai Safe Haven Klasik Emas turun 7% ke US$5.250 sebelum rebound V-shape ke US$5.400+. Pergerakan ini mencerminkan statusnya sebagai lindung nilai utama saat ketegangan geopolitik meningkat.

Bitcoin Tidak Pulih BTC jatuh ke US$83.400 dan hanya naik tipis ke US$84.200. ETF spot turun dari puncak US$169 miliar ke US$114 miliar (-32%). Coinbase Premium negatif menandakan lemahnya permintaan institusi AS.

Saham Teknologi Tahan Banting Nasdaq -0,7% (tekanan dari Microsoft), tapi Meta +10% karena laporan keuangan kuat. Dow ditutup positif tipis—pasar saham lebih resilien dibanding kripto.

Paradoks Bitcoin Bitcoin tidak bertindak sebagai safe haven (tidak rebound seperti emas) maupun aset berisiko (tidak ikut reli Meta). Ini memunculkan keraguan baru tentang narasi “emas digital”.

Outlook Jika ketegangan AS-Iran berlanjut, emas kemungkinan tetap kuat. Bitcoin butuh katalis kuat (misalnya inflow ETF atau clarity regulasi) untuk pulih. Pantau Coinbase Premium & arus ETF—identitas Bitcoin sebagai aset masih diuji.


Survey Note: Pasar Anjlok Semalaman – Emas Pulih V-Shape, Bitcoin Gagal Rebound

Perdagangan Jumat pagi waktu Asia (30 Januari 2026) menjadi uji stres besar bagi berbagai kelas aset setelah ketegangan AS-Iran memanas. Presiden Trump ancam serangan militer jika Teheran tidak setuju kesepakatan nuklir, ditambah ancaman shutdown pemerintah AS, menciptakan sentimen risk-off global. Namun, respons pasar sangat berbeda antar aset.

Emas: Safe Haven Klasik yang Terbukti Emas anjlok 7% ke US$5.250 dalam satu jam (reaksi awal panic), tapi rebound V-shape dramatis ke US$5.400+. Kobeissi Letter catat kapitalisasi pasar emas berayun US$5,5 triliun dalam satu sesi—rekor pergerakan harian terbesar sepanjang sejarah. Emas naik 25% dalam bulan ini dan hampir 2x sejak masa jabatan kedua Trump. Perak bahkan naik 4x dari bawah US$30 ke US$118 per ons sejak tarif “liberation day” April 2025. Ini menegaskan emas sebagai lindung nilai utama saat krisis geopolitik dan ketidakpastian ekonomi.

Bitcoin: Gagal Bertindak sebagai Safe Haven atau Risk-On Asset Bitcoin turun tajam 5% dari US$89.000 ke terendah US$83.400 dan hanya pulih tipis ke US$84.200. Tidak ada rebound V-shape seperti emas, juga tidak ikut reli selektif saham teknologi. ETF spot Bitcoin alami arus keluar sepanjang Januari 2026, total aset turun dari puncak US$169 miliar (Oktober 2025) menjadi US$114 miliar (-32%). Coinbase Premium Index negatif menandakan permintaan institusi AS lemah. On-chain data CryptoQuant tunjuk transaksi kecil (US$0–10.000) turun tajam, pertumbuhan permintaan 30 hari anjlok dari +10% (Oktober) ke -6%.

Saham AS: Ketahanan Relatif Nasdaq turun hanya 0,7% (tekanan dari Microsoft -10% karena kekhawatiran belanja AI), tapi Meta melonjak 10% karena laporan keuangan kuat. Dow Jones ditutup sedikit positif. Pasar saham tunjuk resiliensi meski sentimen makro negatif.

Paradoks Identitas Bitcoin Bitcoin gagal bertindak sebagai safe haven (tidak rebound seperti emas saat krisis geopolitik) maupun aset berisiko (tidak ikut reli Meta saat saham teknologi naik). Ini memunculkan keraguan baru tentang narasi “emas digital”. Investor global tampaknya masih melihat BTC sebagai aset spekulatif berisiko tinggi, bukan lindung nilai yang andal saat ketegangan meningkat.

Faktor Pendorong

  • Ketegangan AS-Iran → ancaman militer & shutdown pemerintah AS picu risk-off.
  • Kebijakan Trump → tarif agresif, ancaman terhadap Greenland & Iran, tekanan ke Fed (kasus pidana Powell) → investor beralih ke emas.
  • Dolar AS → merosot ke titik terendah 4 tahun vs mata uang utama.
  • Bank sentral → tambah cadangan emas sebagai diversifikasi dari US Treasury.
  • Ritel → berbondong masuk ke emas karena narasi safe haven & tren harga kuat.

Outlook Jangka Pendek Jika ketegangan AS-Iran berlanjut, emas kemungkinan tetap kuat sebagai safe haven. Bitcoin butuh katalis kuat (inflow ETF besar, clarity regulasi, atau risk-on global) untuk pulih. Pantau:

  • Coinbase Premium Index & arus ETF spot
  • Harga emas vs BTC (rasio BTC/emas)
  • Sentimen geopolitik AS-Iran

Bitcoin saat ini gagal membuktikan diri sebagai “emas digital” saat krisis. Sampai narasi itu terbukti di situasi stres, label tersebut masih sebatas harapan.

Share this Article