Komputasi kuantum memang masih jauh dari bisa langsung membobol Bitcoin secara massal, namun dampaknya sudah terasa di pasar institusional sejak awal 2026. Beberapa investor besar mulai mengurangi alokasi Bitcoin karena khawatir risiko eksistensial ini, meskipun ancaman teknisnya belum sepenuhnya matang. Riset terbaru menunjukkan jutaan BTC berpotensi rentan akibat reuse public key dan alamat lama, sementara desentralisasi Bitcoin membuat upgrade ke kriptografi post-quantum jauh lebih sulit dibandingkan sistem keuangan tradisional.
Key Points
- Risiko Nyata Saat Ini — Bukan komputer kuantum yang sudah bisa bobol ECDSA, melainkan kekhawatiran institusi yang mulai memengaruhi keputusan alokasi portofolio.
- Jumlah BTC Rentan — Estimasi 20-50% alamat Bitcoin (~6,26 juta BTC senilai US$650-750 miliar) berpotensi rawan karena reuse public key.
- Performa BTC vs Emas — Bitcoin underperform emas sekitar 6,5% di 2026; beberapa penasihat alihkan dana ke emas fisik karena khawatir quantum.
- Upgrade Sulit — Desentralisasi Bitcoin bikin transisi ke algoritma post-quantum (misalnya dari NIST) sangat rumit dan lambat.
- Institusi Terpecah — Ada yang kurangi eksposur (Jefferies), ada yang tetap tambah (Harvard +240%, Morgan Stanley 1-4%).
Implikasi Jangka Pendek Risiko quantum bukan lagi teori masa depan—sudah jadi beban psikologis bagi institusi, meski ancaman teknis CRQC (cryptographically relevant quantum computer) baru diprediksi realistis sekitar 2030-an. Upgrade Bitcoin ke post-quantum memerlukan konsensus jaringan global yang sangat sulit.
Outlook Bitcoin tetap punya waktu untuk beradaptasi, tapi selama belum ada upgrade signifikan, kekhawatiran quantum akan terus jadi faktor penekan bagi alokasi institusional. Investor ritel mungkin kurang terpengaruh, tapi institusi semakin hati-hati.
Survey Note: Komputasi Kuantum vs Bitcoin – Ancaman Nyata yang Sudah Terasa di 2026
Ancaman komputasi kuantum terhadap Bitcoin sering dianggap sebagai masalah jauh di masa depan, namun sejak awal 2026, dampaknya sudah mulai terlihat nyata—bukan karena komputer kuantum sudah bisa memecahkan ECDSA atau SHA-256 Bitcoin, melainkan karena kekhawatiran institusional yang semakin memengaruhi keputusan alokasi portofolio dan sentimen pasar.
1. Bukti Nyata Dampak Saat Ini
Christopher Wood dari Jefferies menghapus alokasi Bitcoin 10% dari portofolio model “Greed & Fear” dan mengalihkannya ke emas fisik serta saham tambang emas. Alasannya: komputasi kuantum berpotensi memecahkan ECDSA (Elliptic Curve Digital Signature Algorithm) Bitcoin, yang bisa meruntuhkan narasi BTC sebagai store of value.
“Penasihat keuangan membaca riset ini dan akhirnya menahan alokasi klien di level rendah atau bahkan nol. Komputasi kuantum adalah ancaman eksistensial,” tulis pengguna X @batsoupyum.
Performa Bitcoin terhadap emas turun sekitar 6,5% di 2026, sementara harga emas melonjak hingga 55%. Rasio BTC/emas berada di level 19,26 pada Januari 2026—menunjukkan sikap hati-hati penasihat investasi.
2. Jumlah BTC yang Berpotensi Rentan
Studi Chaincode Labs (2025) memperkirakan 20-50% alamat Bitcoin yang beredar rawan terhadap serangan kuantum di masa depan karena reuse public key. Artinya sekitar 6,26 juta BTC (nilai US$650-750 miliar pada harga saat itu) berpotensi terekspos.
Alamat rentan meliputi:
- Skrip Pay-to-Public-Key (P2PK) lama
- Beberapa multi-signature wallet
- Konfigurasi Taproot di mana public key terekspos
3. Tantangan Upgrade Bitcoin
Bitcoin sangat terdesentralisasi—tidak ada otoritas pusat yang bisa memaksa upgrade. Berbeda dengan bank tradisional yang bisa langsung implementasikan kriptografi post-quantum, Bitcoin harus melalui konsensus jaringan global yang lambat dan berantakan.
Jamie Coutts: “Saya dulu menganggap remeh risiko ini. Sekarang tidak lagi. Upgrade teknis mungkin, tapi prosesnya lambat karena koordinasi jaringan terdesentralisasi. Tidak ada yang bisa berkata ‘kita ganti sekarang’.”
Standar post-quantum dari NIST (2024) sudah ada roadmap, tapi implementasi di Bitcoin tetap kompleks.
4. Respons Institusi Terpecah
- Bearish — Jefferies kurangi alokasi karena quantum risk.
- Bullish — Harvard tambah alokasi hampir 240%; Morgan Stanley rekomendasikan 1-4%; Bank of America izinkan hingga 4%.
Ini menunjukkan risiko quantum probabilitas rendah tapi dampak sangat besar (tail risk), membuat institusi terpecah.
5. Ancaman Teknis Kuantum
David Duong (Coinbase) sebut dua ancaman utama:
- Komputer kuantum bobol ECDSA → curi private key dari public key.
- Bobol SHA-256 → serang proof-of-work.
CRQC (cryptographically relevant quantum computer) diprediksi realistis 2030-an (DARPA Quantum Blockchain Initiative), tapi kemajuan pesat (Google 2025 + integrasi AI) bisa percepat timeline.
6. Langkah Mitigasi Saat Ini
- Hindari reuse alamat
- Pindah koin ke alamat Taproot/Schnorr yang lebih aman
- Siapkan soft fork post-quantum (masih jauh)
Kesimpulan Komputasi kuantum belum bisa langsung hancurkan Bitcoin, tapi kekhawatiran institusional sudah nyata dan memengaruhi alokasi portofolio. Selama belum ada upgrade signifikan ke kriptografi post-quantum, beban risiko ini akan terus membayangi BTC—terutama bagi investor institusi. Bitcoin tetap punya waktu untuk beradaptasi, tapi tantangan koordinasi desentralisasi membuat prosesnya lambat dan rumit.