Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah indikator penting menunjukkan bahwa harga BTC berpotensi mengalami lonjakan yang signifikan. Dari meningkatnya arus dana institusional hingga penurunan suplai di bursa, berikut adalah tiga faktor utama yang menjadi pemicunya.
1. Lonjakan Minat Investor Institusional
Sinyal penting pertama yang mendasari potensi kenaikan harga BTC dan berpotensi mendorongnya ke level ATH baru, adalah meningkatnya minat investor institusional terhadap Bitcoin.
Berdasarkan data terbaru dari platform SoSoValue, dalam periode 14 hingga 26 Maret 2025, aliran dana ke Bitcoin Spot ETF mencatat arus masuk positif hingga sekitar $974 juta.

Sebagai perbandingan, pada periode 10 Februari hingga 13 Maret 2025, Bitcoin ETF mengalami stagnasi bahkan mencatat outflow yang cukup besar, yang berkontribusi terhadap penurunan harga Bitcoin.
Data ini semakin memperjelas bahwa investor institusional memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan harga BTC, terutama karena volume pembelian mereka jauh lebih besar dibandingkan dengan investor ritel.
2. Pasar Bitcoin Kian Matang
Pasar Bitcoin kini menunjukkan tanda-tanda kematangan yang semakin jelas, dengan stabilitas harga yang lebih terjaga dan meningkatnya permintaan dari institusi besar.
Dilansir dari riset OKX pada 25 Maret 2025, volatilitas Bitcoin kini tampak menurun. Jika sebelumnya pergerakan harga BTC bisa jatuh lebih dari 50% dalam kondisi bearish, kini ambang penurunannya lebih moderat, sekitar 30%.
Indikator on-chain juga semakin menguatkan pandangan ini. Salah satu metrik kunci, Short-Term Holder Market Value to Realized Value (STH MVRV), memberikan sinyal bearish lebih awal, sebelum koreksi harga Bitcoin terjadi.

Sebagai contoh, indikator STH MVRV sudah mengeluarkan peringatan pada 25 Februari, saat Bitcoin masih diperdagangkan di level $88.769, jauh sebelum penurunan harga 30% hingga 50% yang biasanya digunakan investor kripto untuk mengidentifikasi pasar bearish.
3. Suplai Bitcoin di Bursa Sentuh Level Terendah
Sinyal penting terakhir datang dari penurunan suplai Bitcoin di bursa. Data dari firma analitik blockchain terkemuka, Santiment, menunjukkan bahwa pasokan yang tersedia di bursa turun hingga 7,53% dan mencapai level terendah dalam tujuh tahun terakhir.

Penurunan suplai ini menandakan bahwa semakin banyak investor yang memilih untuk memindahkan aset mereka ke dompet pribadi, daripada menjualnya di pasar. Langkah ini menunjukkan perubahan sikap yang lebih positif.
Secara historis, kondisi seperti ini sering kali menjadi sinyal bullish yang kuat. Berkurangnya suplai di bursa mengurangi tekanan jual, sehingga meningkatkan potensi lonjakan harga BTC di masa depan.
Ketika semakin banyak pemegang BTC memilih untuk menyimpannya dalam jangka panjang, pasar menjadi lebih stabil. Hal ini menciptakan ruang bagi harga Bitcoin untuk terus meningkat.
Dengan meningkatnya minat institusional, stabilitas pasar yang lebih terjaga, serta penurunan suplai di bursa, kondisi ini memberikan gambaran yang lebih optimis mengenai kenaikan harga BTC di masa mendatang.